Film Laskar Pelangi : Memang Bagus atau Overrated?


laskar-pelangi-the-movie1

Karena sedang dilanda sindrom malesngeblogdotcom selama sebulan,baru kali ini saya berkesempatan mereview film ini.

Saya berkesempatan menonton film ini sewaktu mudik ke kota asal sehari sebelum lebaran di XXI TP1.Baru tahu ternyata Tunjungan Plaza ada XXI-nya juga.

Ini adalah ulasan saya terhadap film LP.Saya mencoba membahas film ini seobyektif mungkin dari sisi seorang awam yang telah membaca novel LP dan mendapati novel tersebut cukup impresif walaupun disana-sini terkesan hiperbolis.

Adapun pendapat si penulis,Andrea Hirata yang mengatakan bahwa sudah selayaknya karya film ini dibedakan dengan karya novelnya dan dia sendiri tidak mengaharapkan film LP akan ‘ngeplek‘ novelnya saya menganggap hal ini sebagai strategi marketing saja karena tentunya Andrea Hirata sendiri sudah terikat semacam ‘kontrak’ tidak tertulis dengan pihak pembuat film ini jadi sangatlah wagu kalau harus memberikan komentar-komentar negatif atau bernada miring karena dia dan Miles dalam posisi simbiosis mutualisme (saling memanfaatkan).
Jadi jangan heran bila dalam setiap kesempatan di media massa Andrea begitu bombastis mengatakan bahwa dia amat-sangat puas-bangets dengan hasil kerja Miles.Walaupun bisa saja Andis (Nama Kecil Andrea Hirata) sebenarnya menyimpan ketidakpuasan di lubuk hatinya.Semuanya sangat mungkin tertutupi dalam satu kepentingan yang sama bernama bisnis.Who Knows?
Menurut saya Andis tidak sefrontal Kang Abik yang berani mengakui bahwa film AAC jauh melenceng dari Novelnya dan pembelaan Andis terhadap film LP juga agak berlebihan alias lebay kalau kata anak Jakarta mah.Seperti yang terlihat dari pernyataan berikut ini :

“Film dimulai dengan perjalanan ikal dewasa ke kampungku. Dan taukah diirimu kawan, film itu berlangsung dua menit, dan air mata telah tergenang di pelupukku. Lalu kusaksikan frame demi frame, dengan perasaan yang tak kugambarkan dengan kata-kata. Aku larut, tenggelam, dan terombang-ambing cerita Laskar Pelangi dalam gambar-gambar yang sungguh menakjubkan. Aku adalah seorang penonton film yang akut. Aku memiliki koleksi lebih dari 2000 judul film, namun baru kali ini aku sesegukan, dan merasa sangat indah ketika menonton sebuah film. Kukatakan padamu kawan, jika engkau menemukan keindahan di setiap lembar novel Laskar Pelangi , engkau akan menemukan keindahan dalam setiap perpindahan gambar dalam film Laskar Pelangi. Bukan karena film ini diadaptasi dari novelku. Namun sejujurnya kukatakan padamu kawan bahwa film Laskar pelangi adalah salah satu dari film yang paling mempesona yang pernah kusaksikan dalam hidupmu.”

(sastrabelitong.multiply.com)

Lalu,apakah para penonton punya pendapat dan kepuasan yang sama dengan Andrea?Belum tentu.Banyak yang puas tapi tidak sedikit juga yang kecewa.

Dalam Apa Kabar Indonesia Malam TVone edisi awal Oktober lalu yang menghadirkan Mira,Riri,Lukman Sardi dan Ikranegara dan dipandu oleh Tina Talisa,tiga dari empat penelepon mengaku kecewa dengan film LP.Ketiganya mengaku tidak mendapat kesan sebagaimana yang mereka dapat dari novelnya.

Lalu wartawan senior Kompas,dalam tulisannya di harian Kompas edisi 28 September 2008 mengatakan bahwa Riri terlalu ingin tampil semenarik mungkin sehingga film ini terkesan serba nanggung.

Kalau menurut pendapat prbadi saya sih,secara sinematografi film ini cukup bagus tapi bagi saya selain film ini belum mampu mengadaptasi secara baik novel LP di film ini juga banyak hal yang mengganggu.Hal-hal yang mengganggu dalam film ini antara lain:

1. Penampilan Cut Mini sebagai Bu Mus.

Tidak saya sangka ternyata Cut Mini sangat merusak suasana film ini.Bu Mus yang saya tangkap dalam buku adalah Bu Muslimah yang memang benar-benar muslimah dan menjunjung tinggi akhlakul karimah.Sedangkan di film ini saya mendapati Bu Mus yang tidak punya pendirian terlebih dalam berbusana.Kalau memang ingin menggambarkan Bu Mus yang muslimah dengan memakai kerudung ya pakailah kerudung dengan sebagaimana mestinya.Jangan sekali waktu kerudung itu dipakai menutupi rambut tapi diwaktu lain kerudung itu berubah fungsi menjadi kalung leher.Kalau memang gerah dan ogah memakai kerudung tidak usahlah pakai kerudung sekalian jadi penonton pun tidak dibuat bingung.

dsc03165

n22678459639_701452_9953

Yang paling mengganggu saya adalah ketika diceritakan Bu Mus sempat ngambek dan tidak mau mengajar hanya karena dia sedang berduka atas meninggalnya Pak Harfan.Sedangkan yang saya dan mungkin pembaca lain tangkap dari novelnya,Bu Mus adalah sosok yang tough dan gigih dalam mendidik muridnya.Gambaran seorang Bu Mus yang rela mengajar anak-anak orang miskin di sekolah reot dan rela hanya dibayar dengan 15 kg beras setiap bulannya menjadi buyar dan berantakan karena di film ini Bu Mus digambarkan sempat ogah mengajar-entah apapun itu alasannya.

2.Lokasi yang terkesan monoton dan dipakai berulang-ulang.
Ada beberapa lokasi yang saya tangkap digunakan berulang-ulang dan tampak sangat mengganggu.antara lain:

  • Lokasi di padang rumput.

n22678459639_701461_2462

Lokasi ini diambil scene ;

Harun berlari ketika pertama kali masuk sekolah,kucai diinterogasi Bu Mus karena teman-temannya bertengkar,Laskar pelangi bermain pelepah pinang hantu,Lintang melintas dengan sepedanya,Laskar Pelangi bernyanyi seroja & Ikal terbayang-bayang A Ling.Duh,kayak gak ada lokasi lain saja.

  • Lokasi pantai pangkalan Punai.

Untuk lokasi yang memang indah ini kemungkinan besar memang begitu memikat kru dari Jakarta yang akhirnya terjebak ingin mengekspose lokasi ini sehingga terkesan berlebihan.Bahkan adegan Ikal dewasa bertemu dengan Lintang dewasa pun dishoot di pantai ini.

n22678459639_701463_3044

2831367504_cf06af0634_mI wonder,kenapa ya Ikal dewasa menemui Lintang di pangkalan punai?mungkin karena Lintang dewasa adalah seorang nelayan tapi hey,bukankah rumah Lintang bukan di pangkalan punai?dan bukankah sesudah melalu perjalanan jauh dengan bus seharusnya si Ikal bertemu ibunya dahulu atau paling enggak taruhlah itu ransel di rumah terlebih dahulu baru bertemu Lintang.Ngapain juga kepantai bawa-bawa ransel dari luar kota.Ah,sudahlah.

Satu lagi,Riri seakan lupa atau mungkin sebenarnya tidak tahu bahwa di novel laskar pelangi banyak lokasi yang juga pantas untuk diekspose karena ikut andil dalam cerita laskar pelangi salah satunya adalah Gunung Selumar!
Ya,di gunung inilah para laskar pelangi menikmati keindahan penjuru pulau Belitong dan di gunung inilah Ikal sempat mengambil bunga dan menulis puisi untuk diberikan kepada A ling.Tapi sayang di film ini tidak akan kita jumpai keindahan Gunung Selumar.

  • Lokasi pasar ikan.

Lokasi ini muncul beberapa kali dengan beberapa sudut pengambilan yang sama.Di Lokasi ini diambil adegan antara lain ; Toko harapan baru tempat ikal membeli kapur,tempat Bu Mus membeli barang-barang seperti benang dll dan bertemu dengan seorang ibu-ibu.

3.Ada yang perhatikan gak?Di sepanjang film ini ada satu truk yang mondar-mandir dan muncul berulang-ulang dan ada dimana-mana.

Seakan-akan di Gantong cuma ada satu truk.Truk itu adalah Toyota Dyna biru bernomor plat BN 1123 AA.Truk ini muncul dalam adegan Kucai ikut menjadi pekerja anak di PN Timah.Truk ini juga terlihat bersliweran dalam berbagai adegan dan terlihat diparkir di jalan tempat adegan laskar pelangi berlari dalam hujan dan tempat Tora Sudiro berbincang di jalan bersama Bu Mus.Bagian propertinya kurang teliti nih.

4.Adegan-adegan yang nanggung,diulang-ulang dan agak mengganggu logika.

  • Adegan Lintang setiap berangkat sekolah.

Adegan ini selalu sama baik lokasi maupun anglenya.Jadi penggambaran bahwa setiap hari si Lintang melewati lokasi itu untuk bersekolah nggak ‘masuk’ bagi saya.Malah saya berpikir untuk adegan-adegan itu Lintang ditake berkali-kali di lokasi yang sama dengan angle yang sama di hari yang sama dan hal ini hanya disiasati dengan mengganti baju yang dipakai lintang jadi terkesan seolah-olah adegan itu terjadi di hari-hari yang berbeda.
Hal yang sama terjadi di adegan dan lokasi pengambilan gambar saat ikal dan Lintang/Mahar kembali dari membeli kapur.Setiap Ikal pulang membeli kapur pasti anglenya dari sudut yang sama.Membelakangi kamera dan kamera diarahkan pada tikungan sebelum jembatan.
Terkesan kalau sutingnya hanya satu hari cuma takenya aja diambil berkali-kali.Hal ini wajar dalam penggarapan sebuah film tapi dalam film ini finishingnya kurang halus.
Bahkan untuk kasus Lintang bersepeda melewati padang rumput dan bertemu buaya pengulangannya tampak berlebihan.

  • Adegan Tora Sudiro berbincang dengan Bu Mus di jalan.

Saya bingung dengan dua orang ini lha wong bawa sepeda kok malah sepedanya dituntun.Pertamanya sih saya mengira ban sepeda salah satu dari mereka ada yang bocor atau sepeda mereka rusak tapi sesaat kemudian Bu Mus malah menaiki sepedanya dan berlalu meninggalkan Tora Sudiro.Dan Tora Sudiro pun mengejar Bu Mus dengan sepedanya.Lah kalau sepedanya bisa dinaiki kenapa tadi sepedanya dituntun dan harus berjalan kaki ya?

  • Adegan hari pertama sekolah.

Diperlihatkan Lintang sendirian berangkat ke sekolah dengan bersepeda TANPA menggunakan alas kaki.Penggambaran Lintang bersepeda sendirian di hari pertama masuk SD pun sudah melenceng dari novelnya karena tidak diantar oleh ayahnya,si Pria Cemara angin.Agak susah dinalar bagaimana anak sekecil itu mendaftar masuk sekolah dasar sendirian.Tapi yang paling mengganggu logika saya adalah adegan di dalam kelas ketika Ikal kecil berseloroh tentang Lintang kecil yang duduk di sebelahnya kepada ayahnya “Yah,anak itu bau hangus”.

Bah!! darimana bau hangus itu datang padahal Lintang kecil pergi ke sekolah tanpa mengenakan sepatu.Seperti yang diceritakan dalam novelnya bau hangus itu SEHARUSNYA datang dari sandal karet yang hangus terbakar karena dipakai untuk mengayuh pedal sepeda berkilo-kilo meter.

“Bau hangus yang kucium tadi ternyata adalah bau sandal cunghai, yakni sandal yang dibuat dari ban mobil, yang aus karena Lintang terlalu jauh mengayuh sepeda.” (Bab 2 Antediluvium)

Lalu,bagaimana bisa muncul bau hangus kalau Lintang kecil digambarkan tidak beralas kaki?aneh bukan?

  • Adegan ketika Mahar mencari inspirasi untuk karnaval.

Digambarkan ide Mahar untuk karnaval datang dari rebana/tabla yang menggelinding.Yang tidak masuk akal adalah rebana ini menggelinding terlalu jauh mulai dari belakang sekolah tempat Samson memaksa A Kiong memakai bola tenis di dadanya hingga melaju melewati pohon,hampir menabrak ayam dan terus melaju melewati halaman sekolah hingga sampai di depan mahar yang duduk di bekas pohon di ujung halaman sekolah sana.Bagaimana mungkin rebana bisa menggelinding dalam radius yang sebegitu jauhnya dalam lintasan yang tetap lurus?

5.Dialog A Miauw ( Robby Tumewu) yang monoton

Saat adegan Ikal mengambil kapur pertama kalinya di toko kelontong ‘Sinar Harapan’ kalau diperhatikan dialog yang diucapkan Robby Tumewu tidak jauh dari “Lu cek aja di toko sebelah a!“,”Itu sudah harga murah kalau lu tidak percaya cek di toko lain a!“,”tidak bisa a,coba lu cek di toko lain a!“.Sepertinya kepala scrip writer Salman Aristo (Ayat-ayat Cinta,2007) kurang jeli dalam mensupervisi scriptnya nih.

6.Adegan dan ekspos terhadap kematian.

Karena film ini kisah tentang anak-anak dan ditonton oleh anak-anak maka adegan kematian dan tahlilan pak harfan agak menganggu bagi penonton anak-anak.Bahkan ada dua anak-anak yang nonton di sebelah kanan kiri saya ilfill melihat adegan ini.Yang sebelah kiri saya “Opa,ayo puulaang.aku takuut“.Yang sebelah kanan saya “mbak,aku gak mau lihat“.Mungkin bagi orang dewasa tidak menjadi masalah namun bagi beberapa anak-anak adegan ini adalah mimpi buruk.Apalagi dalam novel aslinya seingat saya tidak ada ekspose terhadap kematian Pak Harfan.

7.Banyak adegan-adegan yang terpotong-potong.

Salah satunya adalah pencarian Flo di dalam hutan.Adegan itu muncul dan terputus begitu saja tanpa diceritakan sebab dan akhir pencarian terhadap Flo.Hanya diperlihatkan orang memanggil-manggil Flo dan tampak Flo sedang bersembunyi di pohon.Jadi kemungkinan besar orang yang belum pernah membaca novelnya akan sedikit kebingungan apa sebenarnya maksud adegan ini.Siapa itu Flo?Mengapa orang-orang itu mencari Flo?apa yang dilakukan Flo di balik pohon itu?Bagaiamana akhirnya nasib Flo?berhasilkah orang-orang menemukan Flo?bisa saja pertanyaan-pertanyaan itu muncul di kepala orang-orang yang belum membaca novel LP sebelumnya.

8.Maksud hati Riri yang mencoba menambahkan bumbu-bumbu percintaan antara Bu Mus dan Tora Sudiro yang tidak ada dalam novel juga tidak menambah apik jalinan cerita di film ini.

Seharusnya Riri fokus kepada keteguhan Bu Mus dalam mengajar atau kalau memang mau menciptakan kesan romantis bisa lebih fokus pada percintaan Ikal-A ling.Bumbu-bumbu tambahan a la Riri ini hanya menghasilkan cerita yang menghabiskan timeline dan tidak menyumbang kesan apapun dalam jalinan cerita laskar pelangi.

9.Pengadeganan yang hambar

Adegan naik pelepah pinang hantu pun kurang menggigit karena tidak dilakukan pada saat hujan.Coba bandingkan dengan versi Novel yang menceritakan keceriaan bermain pelepah pinang disaat hujan penuh dengan spirit kebebasan dan keceriaan masa kanak-kanak.

“semakin kencang angin mengaduk-aduk kampung, semakin dahsyat petir sambar-menyambar,
semakin giranglah hati kami. Kami biarkan hujan yang deras mengguyur tubuh kami
yang kumal. Ancaman dibabat rotan oleh orangtua kami anggap sepi. Ancaman tersebut
tak sebanding dengan daya tarik luar biasa air hujan, binatang-binatang aneh yang
muncul dari dasar parit, mobil-mobil proyek timah yang terbenam, dan bau air hujan
yang menyejukkan rongga dada.
Kami akan berhenti sendiri setelah bibir membiru dan jemari tak terasa karena
kedinginan. Seluruh dunia tak bisa mencegah kami.”
“Kami berlarian, bermain sepak bola, membuat candi dari pasir, berpura-
pura menjadi biawak, berenang di lumpur, memanggil-manggil pesawat terbang
yang melintas, dan berteriak keras-keras tak keruan kepada hujan, langit, dan halilintar
seperti orang lupa diri.
Tapi lebih dari itu, yang paling seru adalah permainan tanpa nama yang melibatkan
pelepah-pelepah pohon pinang hantu.”
“Syahdan bertindak selaku co-pilot, dan aku pilotnya. Kami meluncur menyamping
dengan tubuh rebah persis seperti gerakan laki-laki gondrong pengendara sepeda motor
tong setan di sirkus atau lebih keren lagi seperti gerakan speed racer yang merendahkan
tubuhnya untuk mengambil belokan maut. Sebuah gaya rebah yang penuh aksi. Pada saat
menikung itu aku merasakan sensasi tertinggi dari permainan tradisional yang asyik ini.
Namun, cerita tidak selesai sampai di situ. Para penarik
bertabrakan sesama dirinya sendiri, terjatuh-jatuh jumpalitan, terbanting-banting tak tentu
arah, sementara aku dan Syahdan terpental dari pelepah, terhempas, terguling-guling, lalu
kami berdua terkapar di dalam parit.
Kepalaku terasa berat, kuraba-raba dan benjolan kecilkecil bermunculan. Air
masuk melalui hidungku, suaraku jadi aneh, seperti robot, dan ada rasa pening di bagian
kepala sebelah kanan yang menjalar ke mata. Rasa itu hanya sebentar, biasa kita alami
kalau air memasuki hidung. Aku tersedak-sedak kecil seperti kambing batuk. Lalu aku
mencari-cari Syahdan. Ia terbanting agak jauh dariku. Tubuhnya telentang, tergeletak tak
berdaya, air menggenangi setengah tubuhnya di dalam parit. Ia tak bergerak.” (Bab 15,euforia musim hujan)

See,kita bisa menangkap betapa gila dan magisnya dunia anak-anak diwaktu hujan dalam cerita itu tapi hal yang sama tidak akan kita dapat dalam pengadeganan di film yang terasa biasa-biasa saja.

Yang paling banyak membuat para pembaca LP kecewa adalah pengadeganan karnaval yang kurang berkesan padahal di dalam novelnya banyak pembaca yang terbius oleh atraksi Mahar dan kawan-kawan yang begitu dahsyatnya hingga layak mengalahkan tim drum band SD PN.Saya sendiri tertawa terpingkal-pingkal ketika membaca bagian ini dalam novelnya karena memang bagian karnaval ini adalah salah satu magical moment di dalam novel LP.Tapi saya sangat kecewa begitu melihat adegannya dalam film yang terasa hambar.Koreografinya kurang liar,kurang massive dan kostumnya pun sangat biasa.

Sebenarnya ada beberapa hal lagi yang mengganggu bagi beberapa orang lain seperti munculnya mik/Microphone booster sebanyak tiga kali di layar,kostum yang dianggap kurang 70-an,animasi bunga-bunga di toko kelontong,miscasting antara Trapani dengan Syahdan atau penghilangan banyak bagian penting seperti pemberian buku “seandainya mereka bisa bicara” oleh A ling untuk Ikal tapi semuanya itu masih termaafkan dan tidak begitu mengganggu bagi saya.


Yang harus diberi credit :

1.Saya angkat topi untuk penampilan pemeran Ikal,Lintang dan Mahar.

dsc02424_1024x7681

Akting mereka bertiga begitu memukau untuk ukuran anak-anak daerah yang baru pertama kali berakting.Kekakuan pemeran Flo,Sahara dan A Kiong pun menjadi tertutupi oleh aksi Ikal,Lintang dan Mahar.Terutama Verrys Yamarno (Mahar),dia sukses membawakan sosok Mahar yang cuek,nyentrik,nyeni dan berkharisma.
“Tenang boy,serahkan semuanya pada Mahar dan alam” itulah barangkali quote yang paling banyak diingat orang dari film ini.
Zulfany (lintang) pun berhasil merepresentasikan sosok Lintang seperti dalam novelnya.

2.Bangunan sekolah yang dibuat semirip mungkin dengan gambaran di dalam novel.

2916854698_7f9bf40104_mPadahal bangunan sekolah itu sebenarnya adalah bangunan baru.Nah,seharusnya seperti inilah Miles menggarap film ini!!penuh totalitas,tidak ragu-ragu dan malu-malu untuk merujuk pada apa yang dideskripsikan oleh novel LP itu sendiri.

3.Penggambaran suasana hati Ikal yang sedang jatuh cinta dengan jatuhnya bunga-bunga atau patah hatinya Ikal dengan berjatuhannya barang-barang di toko kelontong.

Bagi beberapa orang ini merusak realisme yang dibangun oleh film ini tapi bagi saya animasi ini cukup menghibur bagi penonton anak-anak.Jadi,It’s okay lah.

4.Berhasil mengurangi hal yang hiperbolis.
Misalnya dengan menghilangkan persoalan cincin Newton dalam lomba cerdas cermat.

5.Film ini berhasil membuat banyak orang menangis saat Lintang mengucapkan salam perpisahan terhadap teman-temannya.

Satu-satunya adegan dalam film ini yang membuat saya benar-benar ‘menonton’ dan masuk ke dalam film ini adalah adegan Lintang yang harus putus sekolah.Apa yang ingin disampaikan oleh film ini berhasil disuarakan oleh adegan ini.Pesan bahwa bisa mengenyam pendidikan adalah sesuatu yang harus disyukuri muncul pada adegan ini.

6.Sinematografi film ini lumayan bagus untuk ukuran film Indonesia.Tapi karena terlalu banyak ‘keanehan’ yang mengganggu saya jadi sinematografi yang bagus pun tidak bisa mengangkat penilaian saya akan film ini.

Well,menurut saya film ini mungkin akan jauh lebih baik lagi bila Miles melakukan studi dan survei yang lebih mendalam lagi dan tidak terburu nafsu untuk merilis film ini ke pasaran kalau dirasa banyak aspek yang masih nanggung untuk bisa digarap lebih apik lagi apalagi kalau hanya ingin mengambil momen larisnya novel Laskar Pelangi.Sungguh amat disayangkan kalau hal itu yang terjadi.

Bagi SAYA PRIBADI, film ini cukup bagus tapi masih belum bisa menyamai kemampuan novel laskar pelangi dalam berkisah tentang perjuangan anak-anak miskin dalam mengenyam pendidikan dalam bingkai semangat keislaman(kemuhammadiyahan) lengkap dengan gambaran masa kecil yang penuh warna.
Film ini hanya berhasil menghibur saja namun belum mencapai tahap menginspirasi,sesuatu yang sudah dilakukan novel Laskar Pelangi.

Dalam skala 5 bintang,saya menilai film laskar pelangi ini baru berhasil dapat 3 bintang.

Mungkin film ini lebih baik dari film-film seangkatannya seperti Cinlok,Barbie atau Suami-suami Takut Istri tapi tetap saja film ini jauh dibawah ekspektasi saya atau sebenarnya taste saya yang ketinggian ya? …. *grin.

Sebelumnya mohon maaf bagi penggemar berat film Laskar Pelangi (termasuk SBY gak ya?… *grin) kalau penilaian saya dianggap tidak sesuai dengan pendapat anda.Saya hanya ingin mengungkapkan pendapat saya sebagai seorang konsumen yang sudah membayar tiket untuk sesuatu yang saya harapkan akan spektakuler,tapi nyatanya tidak.Mengingat beragamnya komentar di tulisan saya sebelumnya tentang pemilihan pemeran film ini,kalaupun kali ini anda tidak setuju dan menentang pendapat saya silahkan berkomentar dengan wajar dan bertanggungjawab kalau perlu tulislah review anda di blog anda sendiri dan undanglah saya untuk memberi komentar balik.

*Cawang,menjelang malam minggu.

7 Tanggapan

  1. […] Film Laskar Pelangi : Memang Bagus atau Overrated? […]

  2. terlepas dari kurang lebihnya, menurutku LP adalah film tentang pendidikan terbaik yang pernah dibuat . Terkadang bagi kita para pembaca novelnya, banyak hal-hal yang terasa hambar. Tapi ya itulah…. kemampuan sineas kita. Mungkin akan lain bila yang membuat orang-orang Hollywood.

  3. Untuk film LP, saya angkat topi. memang seperti overrated tetapi kesalahan – kesalahan yang ada di LP belum mengganggu rangka cerita dan pengkarakterisasian tokoh.

    First Impression saya tetap tidak berubah, kok. Sama seperti ketika saya melihat Nagabonar Jadi 2 atau Janji Joni. Karena itu prinsip saya, “Tontonlah film Indonesia -sekali saja-.”๐Ÿ˜›

  4. errrr…kalo saya, celakanya saya memang belum pernah mbaca novelnya. jadinya kalo saya bilang bagus dan ada yang menuduh saya terlalu overrated, ya saya bacok beliaunya yang ngomong gitu. dapet argumen dari mana coba, wong saya bilang bagusnya dalam situasi saya sebelumnya memang belum punya gambaran apapun tentang ceritanya? hohoho…

    dan akhirnya saya memang bilang kalo filmnya bagus. sampai 2 kali nonton berdua dengan 2 gadis yang berbeda, hahaha!๐Ÿ˜ˆ

    @ irul
    hollywood? saya nggak yakin juga. jadi inget tragedi eragon, da vinci code, atau juga the departed yang memang njiplak infernal affairs-nya andy lau sama tony leung๐Ÿ˜‰

  5. Kalau menrt sy,
    sebaikny buat flm lgi.
    Sy ingn natural alias asli dr novelny tnpa ada unsur pnmbhan or pngrngan…emang mtk?

  6. satu lagi adegan yg tidak begitu kena, waktu Matias Muchus (bapaknya Ikal) ngajak ikal nonton ke bioskop yg tujuannya dlm novel adl menghibur ikal, tp disitu ada adegan ikal berlari-lari di antara orang-orang pegawai PN Timah dan menabrak salah seorang dari mereka, maksud dari itu apa?
    trus lagi, aku setuju bgt dg miscasting Trapani dan Syahdan. dlm film ini Ikal hampir tidak pernah bersama Syahdan padahal dlm novel merekalah yg bertugas bersama membeli kapur ke manggar. Lalu soal buku Herriot yg diberikan A Ling pada Ikal, padahal aku penasaran juga sama buku itu, bukankah itu inspirasi hidup ikal selanjutnya?
    tp di luar itu…bagus kok filmnya. apalagi Mahar, luar biasa.

  7. film lp itu menuruku film anak2 terbaik, dibanding petualangan sherina apa lagi cjr, buktinya segtu bnyak kekurangan yg disebutin diatas tetep aja film itu banyak penggemarnya. klo menurutku sich yg ngerusak itu ya komen2 gk penting diatas. mang dikira gmpang bkin film persis novel, durasinya hrus d pkirin bro mkanya bkan hal yg bru klo film adaptasi novel mengalami penambahan atau pengurangn. lg mengenang mahar nemunya beginian ckckckc

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: