Mudik Ke Jawa?Loh Gue kan udah di Jawa?


Anak Jakarta(AJ) : Kapan lo mudik ke jawa?
Arek Suroboyo yang kerja di Jakarta(AS-KJ)* : Hah?ke jawa?bukannya gue udah ada di jawa?
AJ : maksud gue kan lu sekarang lagi di Jakarta?
AS-KJ : Ga ngerti gue,emang Jakarta ada di pulau tersendiri ya?Jakarta kan juga di pulau Jawa?
AJ : (bingung) engh,maksud gue kapan lo pulang ke kampung?
AS-KJ : Kampung?Surabaya bukan kampung kali.Surabaya itu kota besar.
AJ : Ya itu maksud gue,kapan lu pulang ke Surabaya?
AS-KJ : Nah gitu dong,kalau nanyanya jelas gitu kan enak jawabnya.
AJ : Whateverlah (sewot)

Ini adalah masalah yang sepele dan terlihat remeh,tapi jangan heran kalau hal ini masih sering terjadi dan bisa merusak komunikasi karena maksud dari 2 orang yang saling berkomunikasi tidak tersampaikan dengan baik.Contohnya ya seperti dialog diatas atau petikan dialog antara 2 teman saya yang berikut ini;

Saat itu kedua orang teman saya sebut saja Muti yang asli Ponorogo dan Neli yang orang Jakarta sedang berbincang mengenai kepadatan penduduk.Dialog ini terjadi sekitar awal tahun 2008 ini.

Muti : duh,kalau lihat penduduk yang makin banyak begini.Kayaknya bener nih kata orang-orang dulu kalau suatu saat nanti Jawa bakalan tenggelam. (Muti merujuk ke ramalan Joyoboyo tentang tenggelamnya pulau Jawa)
Neli : oh ya?,he eh tuh kayaknya udah mulai terjadi deh Bu.Kemaren aja gue lihat di tivi yang banjir di Jawa tuh parah banget.duh kesian banget sampe ngungsi ke jalan-jalan gitu.Untung yang tenggelam cuma Jawa ya kita yang di Jakarta aman-aman aja kan ya? (Neli sedang memberikan contoh banjir di Widang/Babat waktu itu yang membuat penduduknya mengungsi ke jalan raya Babat-Tuban)
Muti : (speechless.Bete karena obrolannya gak nyambung)

Jelas sekali di dialog ini bahwa maksud Muti adalah Jawa sebagai satu kesatuan pulau dari Merak sampai ketapang di Banyuwangi sana.Sedangkan si Neli punya konsep sendiri bahwa yang namanya Jawa itu tidak include Jakarta.Kalau sudah begini gimana komunikasi bisa nyambung?

Hal ini terkadang sering timbul menjadi pertanyaan bagi saya dan beberapa teman dari Jatim lainnya atau mereka yang tinggal di daerah sana,kenapa hal seperti ini masih sering terjadi.Apa sebenarnya yang menyebabkan hal ini terjadi.Minimnya pengetahuan geografi yang memadai atau sebab lain.

Hal ini diperparah lagi dengan kebiasaan orang-orang (suku) Jawa yang lama tinggal di Jakarta dan sekitarnya yang ikut-ikutan latah fenomena ini.Mereka lebih suka bilang ‘pulang ke Jawa’,daripada bilang ‘pulang ke Pekalongan’ atau ‘pulang ke Purwokerto’ atau ‘pulang ke Klaten’.Padahal sejatinya kan mereka sudah berada di (pulau) Jawa.

Lain halnya kalau kita berada di Sumatera,Sulawesi atau Papua hal ini tidak akan menjadi masalah karena apabila kita bilang akan pulang ke Jawa maknanya jelas dan bisa dipastikan merujuk Jawa sebagai satu pulau di seberang sana.

Selain kecurigaan saya terhadap faktor minimnya pengetahuan geografis ternyata muncul penyebab-penyebab lain yang berbau primordialisme alias kesukuan yang kental seperti penjelasan di bawah ini

Begini Om,pulau Jawa ini kan tidak hanya dihuni suku Jawa saja.Di pulau ini ada suku besar lainnya seperti Sunda atau Betawi dan meski tinggal di pulau Jawa mereka tidak mau disebut sebagai orang Jawa dan secara konsep wilayah mereka menganggap Jawa itu ya cuman Jawa Timur sampai Jawa Tengah saja.Karena itulah ketika ada orang yang bepergian ke/dari wilayah di Jawa Timur atau Jawa Tengah mereka cukup menyebutnya ke/dari Jawa,gitu lho Om

Hm,masuk akal juga,bagus penjelasannya.

Eits,tapi ntar dulu.kayaknya ada yang gak beres deh.Kalau memang dalam hal ini Jawa lebih mengarah kepada pengertian wilayah kesukuan dan bukan Jawa sebagai pulau kayaknya ada sesuatu yang tidak fair berlaku disini.Karena ini hanya berlaku bagi suku Jawa.The ‘Big Question’ is,Apabila acuannya adalah wilayah kesukuan lalu kenapa orang yang pulang ke Bandung/Sukabumi/Tasik/Banjar tidak dibilang pulang ke Sunda ya?

Lagian pada kenyataanya,belum tentu lho orang di wilayah Jawa Tengah atau Jawa Timur juga merasa bersuku Jawa,suku Tengger di Jawa Timur misalnya.

Satu lagi ketidakfair-an disini adalah hal ini hanya terjadi di wilayah Jabodetabek atau jawa bagian barat saja dan tidak sebaliknya dengan di daerah yang dianggap Jawa sama orang Jakarta.

Gimana sih Om,gak jelas ah”

Gini loh,maksud saya gak adil tuh karena di daerah yang disebut Jawa,Surabaya misalnya,Masyarakatnya tidak pernah menyebut orang yang pergi ke Jakarta itu ‘pergi ke Betawi’ atau orang yang ‘mudik ke Tasik’ atau ‘pergi ke Bandung’ itu dengan sebutan ‘mudik ke Sunda’ atau ‘pergi ke Sunda’.Nah gak adil kan?

“Gak adilnya dimana?”

ya itu tadi ketika di suatu daerah sudah tidak menggunakan sentimen kesukuan untuk menyebut lokasi atau nama suatu wilayah tapi di daerah lain yang notabene ibukota malah masih senang menggunakan pendekatan kesukuan untuk menyebut suatu wilayah geografis yang sejatinya punya nama resmi.

Sudah seharusnya kita sudah tidak lagi menggunakan pendekatan kesukuan dalam menyebut suatu wilayah,toh kalaupun sulit menyebut ‘mudik ke Wonosobo,Solo,Wonogiri,Sragen,Pacitan,Madiun,Kediri atau Nganjuk’ mbok ya sebut saja ‘mudik ke Jawa Tengah atau Jawa Timur’ gitu,jangan ‘mudik ke Jawa’.Kan lebih egaliter dan lebih enak didengar.

Belum lagi kalau hal ini dikonfrontasikan dengan fakta geografis dan demografis.Misalnya anda bilang orang yang mudik ke Jember itu orang yang mudik ke Jawa karena anda merasa Jember masih termasuk dalam entitas budaya Jawa atau bersuku Jawa padahal sejatinya Jember,secara demografi lebih didominasi etnis Madura.Kalau sudah begitu,masih benarkah kebiasaan kita menyederhanakan penyebutan lokasi-lokasi di Jawa Timur/Jawa Tengah itu dengan kata Jawa.

Saya setuju dengan pendapat mbak Irma yang bilang,okelah kalau masyarakat kelas bawah masih melakukan kebiasaan menyebutkan pergi/pulang ke Jawa (padahal mereka sedang berada di pulau Jawa) masih bisa dimaklumi mengingat keterbatasan wawasan dan mungkin pengetahuan geografisnya yang sangat kurang walaupun kebisaan ini harus dihilangkan tapi kalau kita yang ‘makan’ sekolahan dan berpendidikan,melek informasi,akrab dengan internet dan punya akses terhadap ilmu pengetahuan masih bersikap sama,maka kok amat tidak bijaksana ya dan maaf,kelihatan banget o’onya.

“ih si Om,udah ah ini kan masalah SARA,”

Ah gak segitunya kali,Tong.Lagian gak ada yang salah kok,pan saya enggak menghina atau merendahkan etnis tertentu saya hanya ingin masalah kecil seperti ini tidak menjadi masalah dalam komunikasi sehari-hari dan dalam kehidupan sehari-hari kita sebagai bangsa.

Akan jauh lebih indah kalau kita mengikis egoisme kesukuan seperti ;”ini wilayah suku saya,bukan wilayah suku kamu,wilayah suku kamu ada di sana.”
“Tapi Om,Kan gak semua orang di Jakarta kayak Gitu”

Ya bener,contohnya ya saya ini he..he..makanya kita harus memberi tahu ke teman-teman kita yang konsep geografinya masih belum bener dan mungkin masih belum tahu sebenarnya Jawa itu ada dimana?

Kalau kita sudah bisa menyebut suatu lokasi sesuai namanya dan bisa mengenyampingkan semangat primordialisme seperti yang sudah-sudah,kita akan lebih enak dalam hidup berbangsa dan bernegara dan Indonesia pun bisa lebih indah.

*Tulisan ini terinspirasi oleh teman-teman yang jengkel kalau dibilang mudik ke Surabaya itu mudik ke Jawa.Sing sabar ae,Rek!

** Joyoboyo adalah raja Kediri yang salah satu ramalannya antara lain menyebutkan Pulau Jawa akan terbelah dan tenggelam.

Yang mengalami kegundahan serupa :

Lisa Febriyanti

Mike Armand


2 Tanggapan

  1. mudik yoooooooo mudik nang SUROBOYO….

    thanks dah di link di sini. emang masih suka gak habis pikir sama salah kaprah itu……

    Kata saya ; yo’i Sis,yang bikin bete terkadang orang yang sekolah tinggi juga masih salah kaprah soal ini.

  2. keliatannya karena sudah menular dan dianggap yang berlaku umum…tapi tidak ah buat aku…jakarta indeed di pulau jawa….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: