Siapa mau bantu Mbok Darmi ?


Satu lagi potret kemiskinan di negara kita.Membaca kisahnya membuat kita tersadar betapa di luar sana masih banyak orang-orang yang jauh lebih menderita dari kita dan lebih layak untuk ‘mengeluh’ daripada kita.Dengan membaca kisah ini,kita seharusnya bisa lebih bersyukur kepada-NYA karena masih diberi nikmat kesehatan,nikmat usia muda,nikmat masih punya keluarga,nikmat masih bisa bekerja dan nikmat-nikmat lainnya yang terkadang tidak pernah kita syukuri dalam kehidupan kita.

Kisah Mbok Darmi dan suaminya sungguh bukan lukisan yang indah tentang hari tua.Hidup sebatang kara tanpa sanak saudara,sakit-sakitan dan dalam himpitan kemiskinan.Kisah seperti ini pasti bukan hanya milik Mbok Darmi.Banyak kisah-kisah serupa yang terjadi di pelosok negeri ini terutama di kota-kota besar yang terkadang sangat tidak ramah bagi pasangan manula seperti Mbok Darmi dan suaminya.

Tak Ada Saudara, Mbok Darmi Enggan Pulang Kampung
Rois Jajeli – detikSurabaya


Surabaya – Selama 7 bulan Mbok Darmi (67) dan suaminya, Giman (70) tidur di atas becak dan teras pertokoan kawasan Kedungdoro, Surabaya. Mbok Darmi mengaku tak ingin kembali ke kampung kelahirannya di Kediri maupun kampung suaminya, Madiun.

“Kampung saya itu hanya tempat kelahiran saya. Saya sudah tidak mempunyai sawah atau rumah di kampung,” kata Mbok Darmi saat menunggu suaminya yang tergolek lemas di ruang Marwah lantai III Rumah Sakit Umum (RSU) Haji Sukolilo Surabaya kepada detiksurabaya.com, Sabtu (5/7/2008).

Mbok Darmi mengaku, di kampung halamannya tidak memiliki sanak saudara. “Saya punya dua saudara, tapi tidak tinggal di kampung halaman,” ujarnya.

Adiknya bernama Leginem tinggal di kawasan Jakarta dan kakaknya Darsiyah tinggal di kawasan pegunungan kawasan Jawa Barat. “Sejak pindah dari Kedung Rukem, saya tidak pernah ketemu lagi,” ujarnya.

Sedangkan Giman juga sudah tidak mempunyai sanak saudara di Madiun. “Saya seneng tinggal di Surabaya. Cari rezeki lebih mudah daripada di desa,” tuturnya.

Namun Mbok Darmi menegaskan, dirinya tidak gila harta. Dia ingin hidup sederhana. “Yang penting saya bisa merawat suami saya. Sambil berjualan bumbu kecil-kecilan untuk membiaya hidup kami. Paling satu hari menghabiskan beras tidak sampai 1/2 kilogram,” katanya.

Bila kelak ada yang ingin mengontrakkan rumah dan memberi bedak jualan, Mbok Darmi mengaku tidak mempermasalahkan. Asalkan tidak di kawasan Pasar Pabean, karena tidak cocok dengan perilaku warga salah satu etnis di kawasan itu.

“Terserah yang memberi saja. Kalau dikontrakkan dan diberikan tempat berjualan saya terima dan bersyukur,” tuturnya.

Bagaimana? Anda terketuk dan ingin berbagi untuk sesama? Yuk gabung bersama detikers Surabaya(roi/fat)

*dikutip dari detiksurabaya.

Satu Tanggapan

  1. ternyata kehidupan mbok darmi tak seindah lagu yang di bawakan team lo, kemana gerangan keindahannya menghilang? semoga mbok darmi diberi ketabahan !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: